Header Ads Widget

Responsive Advertisement

9 Hal Menarik yang Saya Temukan Saat Solo Traveling ke Brunei Darussalam

Pengalaman Seru Menjelajah Brunei Darussalam: Tenang, Bersih, dan Penuh Kejutan (Part 2)

Setelah mendarat di Bandara Internasional Brunei, saya dan Firman langsung merasakan atmosfer yang berbeda. Bandaranya memang tidak sebesar bandara internasional di negara tetangga, tetapi cukup modern, tertata rapi, dan sangat bersih. Proses imigrasi pun berjalan lancar, petugasnya ramah dan sigap. Tidak butuh waktu lama sampai akhirnya kami keluar dari terminal dan melanjutkan perjalanan menuju penginapan.

Kami menginap di sebuah asrama bernama Youth Centre. Saat proses check-in, ada sedikit kejadian menarik. Kepala asrama yang menyambut kami ternyata keberatan saat saya memanggilnya dengan sebutan "Pak". Katanya, "Saya bukan bapak kamu, panggil Om saja." Sebuah momen yang bikin kami ngakak, tapi jadi cair suasananya.

Brunei terasa sangat berbeda dibanding kota-kota besar di Asia Tenggara lainnya. Di jalanan utama, lalu lintasnya lengang dan suasananya tenang. Bahkan di jam-jam sibuk, kami bisa menghitung jumlah kendaraan yang lewat dengan jari. Penduduknya terlihat hidup nyaman, tidak terburu-buru. Kehidupan di Brunei berjalan dalam ritme yang santai tapi tertib.

Kami pun menjelajahi pusat kota Bandar Seri Begawan, mengunjungi ikon ikonik seperti Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien dan Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah. Dua masjid megah ini bukan hanya pusat ibadah, tapi juga landmark kota yang memikat mata. Arsitekturnya megah, penuh detail, dan dikelilingi taman yang sangat terawat.

Touch Down Brunei Intl Airport
Touch Down Brunei Intl Airport

Transportasi umum di Brunei cukup sederhana. Untuk perjalanan lokal, kami memanfaatkan bus kota dengan tarif flat 1 BND ke mana pun tujuannya. Menariknya, hampir semua sopir dan kondektur bus yang kami temui ternyata berasal dari Indonesia. Ada rasa familiar yang bikin nyaman.

Oh ya, bus-busnya memang sudah agak tua, tapi tetap bersih dan ber-AC. Jangan bayangkan seperti MRT atau bus cepat modern seperti di Singapura. Tapi untuk ukuran kota kecil dengan mobilitas rendah, sistem transportasinya cukup efisien.

Hal unik lainnya yang kami temui adalah penggunaan mata uang. Brunei menggunakan Brunei Dollar (BND) sebagai mata uang resmi, tapi masyarakat lokal sering menyebutnya sebagai 'Ringgit'. Dan yang lebih menarik, Dolar Singapura (SGD) juga bisa digunakan di Brunei karena nilai tukarnya sama persis (1:1). Ini membuat kami lebih fleksibel dalam bertransaksi.

Selama tiga hari di Brunei, kami mengisi waktu dengan berjalan kaki menyusuri kampung air, berinteraksi dengan warga lokal, hingga menikmati sunset dari jembatan pejalan kaki yang menghadap langsung ke Sungai Brunei. Warga lokalnya ramah, suasananya aman, dan tidak pernah sekalipun kami merasa khawatir.

Brunei mungkin bukan destinasi yang masuk dalam list populer para backpacker, tapi justru itu keunikannya. Negara ini menyimpan keindahan dan ketenangan yang tidak bisa ditemukan di tempat lain. Perjalanan kami ke Brunei menjadi pelengkap sempurna dari misi menjelajah negara-negara ASEAN.

Kami pun menutup perjalanan ini dengan rasa syukur. Brunei bukan sekadar negara ke-8 yang kami kunjungi di Asia Tenggara, tetapi sebuah pengalaman baru yang memberi kami perspektif berbeda tentang arti kesejahteraan dan ketenangan hidup.

'Keep Traveling, Keep Writing'

Posting Komentar

0 Komentar